Tuesday, 17 June 2008

IKAT-WEAVING

In Sikka, painting, carving and sculpture is almost extinct. Only tieing-weaving (tenunikat) art is still holding out until now. (As in whole Flores, East Nusa Tenggara).

Ikat is specific product of home handicraft of the women. The beauty elements through motive, either by symbols of macrocosms and microcosms or strong system. Pictures/motives art dyed in nature color root, called bur or buke and leaf of black in­digo, then woven with the most careful way. The product is wore by those who inherit moral defense educational massage, which in ancestors custom language called Du'a Utan(g) Ling Labu Welin(g). Sarong and dress belong to women should have value and valuable. Background of philosophy (both man and women) about value and self - regard is realized in the meaning of marriage finery.

Accordingly, each piece of women sarong called utan(g) is as expensive as the creator.
In spite of this there is also man blanket sembar and head ikat cloth wutuk or lensu, which tied and woven well. There is also weaving cloth is woven by Sikka-Krowe weaving artist called Lipa Li'in(g) or Lipa Prenggi.

Traditional sarong Utan(g) has design called Huran(g)-Heren(g) which is really sharp and considerable. After the symbol of motives and ikat picture Hurang-Kelang also determines.
Each piece of Huran(g)-Kelan(g) sarong which has been tied and dyed consist of Ina Gette, Renda, Ina Lotik/Kesik, Tokang, Likeng, Bueng, and Wiwir.

Ina Gette, part of main big motives with a number of ikat (Go'ang-Siwang) more than 100.
Renda, Carving with a style between Ina gette and Ina Lotik (small style part), either whole carving (renda temang) or only a part (renda wigeng).
Ina-Lotik/Kesik, Part of small style of Ina Gette motive with a number of ikat, 20 until 50.
Tokang, part with dot motives only one tieing as interlude of small limit.
Likeng, Part of geometrical motive that tieing between Ina Gette, Ina Lotik, Tokang, and Bueng.
Bueng, Part of single series dot motive as border.
Wiwir, Low tip part with 10 until 20 tieing, if it is given face motives with geometric/line design triangle, spiral meander, square, which called wiwir renda. If the edge is black, it is called wiwir mitan(g).

Motives/Pictures which called Huran(g)-Kelan(g) art:
• Dala Mawarani (morning star)
• Agi Pelikano (angel, holy bird pelican)
• Jarang Atabiang (a couple men on a horse)
• Koraseng Doberadu (men like a couple of chicken-influence of Portuguese Catholic).
• Koraseng Manuwalu (as same as koraseng doberadu with a motives of a couple of chicken under it's hand)
• Naga Lalang (sawanb dragon with dragon motive)
• Ruha (savanna animal motives, deer)
• Sesa We'or (tail of male and female small bird)
• Manu (fighting cock motives)
• Oko Kirek (men and animals motives)
• Ahu-Uta (Wolf motives)
• Pedang-Puhung (pineapple leaf motive)
• 'Ai 'Roung (leaf, flower and spiral shaped)
• Besi (leaf and squash motives)
• Ata Bi'ang (a couple of men motives)
• Medeng (bloom, leaf and double helix motives)
• Patola (India patola with its circle spiral bloom motives)

Accordingly every traditional sarong, utan(g) has special name according to mo¬tives-kelang-as mentioned above, namely utang mawarani - utang Agi pelicano - utang ata bi'ang - utang jarang ata bi'ang - utang rempe sikka - utang moko - utang tope -utang rea nepa - utang wenda - utang breke - utang jentiu - utang naga lalang – utang gabar - utang patola - utang nape wunung - utang anjo - utang soge - utang lea - utang luwu -utang wenda luheng nggeta - utang wenda tenda wolojita - utang oi - utang nape da'ang tang -utang oko kirek - utang rempe sikka kelang medeng -utang medeng turang rua - utang medeng ta'a water, etc.

Motives and various decorations have a meaningful values/symbol on every tra¬ditional sarong and can be read in certain kinds of sarong such as:

Utang Moko, wore on planting effort ceremony to ask for fertilization.
Utang Breke, wore on refusing disaster ceremony a symbol of destruction.
Utang Jarang Ata Bi'ang, wore whwn the death, as symbol of men who rides the horse I to great beyond.
Utang Merak, suitable for bride, because motives and color are interesting and beautiful.
suitable for old men, because
Utang Mitang, suitable for old men, because it has calm black color.
Utang Wenda, for the couple who will live happily.
Utang Mawarani, that have the symbol or morning star, to give tight,
guidance, and also as medium to refuse disaster.
Utang Oi Rempe-Sikka, suitable to be wore by bride because it has symbol of three
stars, as husband, wife and child.
Utang Sesa We'or, It is good for the bride who'is paying court, with the symbol of couple of small bird.

The fore, it is clear that traditional sarong, utan(g) of Sikka-Krowe beside has esthetics and artistic value, also has educational and religious value.

In relating to motives and art aspect of sarong/lipa (Man Sarong) of Sikka-Krowe,
it was noted that queen Dona Maria Du'a Lise Ximenes da Silva had a great role. She is very interested to beautiful. Patola motive from India and beautiful prenggi from Malaka, so Queen Dona Maria sent special envoy to Java to study how to make it. It was a confirmation of Sikka historians Edmundus Pareira et al. In a special interview in Lela (June 2000) that the effort had a closed relation to women value and dignity struggle effort by Queen Dona Inez and Queen Dona Maria.

posting by boim
www.alfonsadeflores.blogspot.com
from The Rainbow of Sikka



Lihat selengkapnya...

Monday, 16 June 2008

Seni Kerajinan Ikat-Tenun

Di Sikka, seni rupa (ukir, lukis dan pahat) sudah hampir punah. Yang bertahan hingga kini hanyalah seni ikat-tenun (sebagaimana di seluruh Flores, Nusa Tenggara Timur-NTT)

Seni ikat-tenun adalah hasil karya tangan rumah tangga oleh para wanita yang sangat spesifik. Unsur-unsur keindahan melalui gambar. gambar motif, baik berlatar makrokosmos dan mikrokosmos dalam perlambangan-perlambangan maupun sistem yang kuat. Gambar-gambar motif yang diikat kemudian diwarnai. Dicelupkan pada warna kuat alamiah: akar mengkudu yang disebut bur/buke dan tarung yang merupakan dedaunan tarum hitam. Setelah diberi ramuan koja-gelo, ditenun melalui proses yang sangat berhati-hati. Hasilnya, dipakai oleh mereka yang mewarisi pesanan edukatif pertahanan-moral yang dalam bahasa adat leluhur, Du'a utan(g)ling tabu welin(g)"Kain sarung dan baju setiap wanita haruslah bernilai, berharga".



Latar belakang filosofis (baik pria apalagi wanita) tentang nilai dan harga diri yang diwujudkan dalam seluruh artian pembelisan perkawinan.

Oleh karenanya, setiap lembaran kain sarung wanita yang disebut utan(g), mahal harganya setimpal orang yang mengerjakannya. Selain itu masih ada kain selimut pria, dan ikat kepala atau lensu yang diikat dan ditenun rapi. Masih ada lagi kain lipa buat pria yang ditenun-diikat, lipa peten(g) atau lipa-loen(g). Juga kain lipa yang ditenun angkat sulam oleh seniwati Sikka-Krowe, lipa li'in(g) atau lipa-prenggi.

Terutama sarung adat utan(g) mempunyai susunan/design yang disebut huran(g)-heren(g) yang jeli dan diperhitungkan. Setelah hasil ikatan penuh motif dan gambar perlambang huran(g)-kelan(g) yang juga menentukan.

Susunan/design hurang-hereng dari setiap hurang-kelang lembaran sarung yang sudah diikat dan diwarnai terdiri atas Ina gette, Renda, Ina-Lotik/Kesik, Tokang, Likeng, Bueng, dan Wiwir.

Ina-Gette, bagian motif besar utama dengan jumlah lungsi (go'ang-siwang) sebanyak 100 hingga 200 lebih ikatan.
Renda, hiasan berpola antara Ina Gete dan Ina Lotik (bagian, pola kecil), baik hiasan utuh (renda temang) maupun separuh belahannya (renda wigeng).

Ina-Lotik/Kesik, bagian pola kecil dari motif Ina Gete dengan jumlah lungsi sebanyak 20 hingga 50 ikatan.
Tokang, bagian dengan motif kecil sebanyak lebih dari 10 ikatan disusun di antara Ina Gette Ina Lotik, Renda, Likeng, dan Bueng.
Likeng, bagian dengan selingan motif geometris sebanyak angka ganjil 3-5-7-9 ikatan disusun di antara Ina Gete, Ina Lotik, Tokang, dan Bueng.
Bueng, bagian dengan motif berbintik hanya satu ikatan sebagai selingan batas kecil.
bagian ujung bawah dengan ikatan sebanyak 10 hingga
Wiwir, bagian ujung bawah dengan ikatan sebanyak 10 hingga 20 ikatan. Bila diberi motif renda berpola geometris/bergaris tumpal, segi tiga, pilin, meander, persegi empat, disebut wiwir renda. Bila pinggiran ini polos hitam wiwir mitan(g).


Motif/gambar-perlambang yang disebut huran(g)-kelan(g) dapat disebutkan:
• Dala Mawarani (Bintang Kejora)
• Agi Pelikano (Malaikat, Burung suci pelikan)
• Jarang Atabiang (Pasangan manusia berkuda)
• Koraseng Doberadu (Manusia bagai pasangan ayam -pengaruh Katolik Portugis).
• Koraseng Manuwalu (sama dengan Koraseng Doberadu, dengan motif pasangan anak ayam dengan induknya sang pelindung)
• Naga Lalang (atau Naga Sawaria dengan motif ular-naga)
• Ruha (Motif binatang padang ilalang, rusa)
• Sesa We'or (Motif ekor burung murai betina dan jantan)
• Manu (Motif ayam bertemu kepala, bersambungan)
• Oko-Kirek (Motif dengan ragam manusia dan binatang)
• Ahu-Uta (Motive anjing hutan semacam serigala)
• Pedang-puhung (Motif dedaunan nenas dengan sulurnya)
• 'Ai-`roung (Motif daun, bunga dan sulurnya)
• Besi (Motif daun dan buah labu)
• Ata-Bi'ang (Motif manusia berpasangan)
• Medeng (Motif kembang, daun, dan sulur berganda)
• Patola (Motif patola India dengan suluran kembang yang membentuk bulatan)

Dengan demikian setiap sarung adat, utan(g) mempunyai nama tersendiri sesuai motif -kelang- yang disebut di atas yakni Utang Mawarani Utang Agi Pelikano - Utang Atabi'ang - Utang Jarang Ata Bi'ang - Utang Rempe Sikka -Utang Moko - Utang Tope - Utang Rea Nepa - Utang Wenda Utang Breke - Utang Jentiu - Utang Naga Lalang - Utang Gabar - Utang Patola - Utang Nape Wungung - UtangAnjo - Utang Soge - Utang Lea - Utang Luwu - Utang Wenda `Luheng Nggela - Utang Wenda Tenda Wolojita - Utang Oi - Utang Korasang Manuwalu - Utang Rempe Sikka Kelang Naga Lalang - Utang Nape Da'ang Tang - Utang Oko Kirek - Utang Rempe Sikka Kelang Medeng - Utang Medeng Turang Rua - Utang Medeng La'a Waler, dan sebagainya.
Motif dan ragam hiasan penuh dengan artian nilai/simbol pada setiap sarung adat yang dapat dibaca pada jenis-jenis sarung tertentu seperti:


Utang Moko, dipakai dikala upacara perladangan dengan ujud memohonkan kesuburan.
Utang Breke, dipakai pada waktu upacara menolak bala dalam perlambang destruktif pemusnahan.
Utang Jarang Atabi'ang, dipakai sewaktu ada kematian dalam perlambang manusia menaiki kuda menuju alam baka.
Utang Merak, sangat layak dipakai sang pengantin wanita, karena corak dan warna menarik, indah.
Utang Mitang, sangat cocok buat orang tua, karena warna gelap yang tenang.
Utang Wenda, bagi pasangan yang ingin hidup bahagia,sangat bertepatan untuk dipakai.
Utang Rempe Sikka, buat pasangan yang ingin kerukunan hidup.
Utang Mawarani, dengan perlambang Bintang Kejora, diharapkan dapat memberikan penerangan, petunjuk juga sebagai media penolak bala.
Utang Oi Rempe-Sikka, sangat layak dipakai oleh pengantin wanita, karena berlambang tiga bintang seandai suami, isteri dan anak.
Utang Sesa We'or, sangat laik buat pengantin yang sedang beradu kasih, dalam perlambang burung murai berpasangan.

Demikian, jelas bahwa sarung adat utan(g) Sikka-Krowe selain bernilai, artistik, juga paedagogis, dan religius.
Perkara motif atau segi art pada sarung/kain lipa Sikka-Krowe patut dicatat peran Ratu Dona Maria Du'a Lise Ximenes da Silva. Agaknya karena tergoda patola dari India yang cantik atau prenggi yang cantik dari Malaka, maka Ratu Dona Maria mengirim orang khusus ke Jawa untuk belajar cara membuatnya. Hal ini, demikian penegasan sejarahwan Sikka Edmundus Pareire dkk. dalam wawancara khusus di Lela (Juni 2000), sangat berkaitan dengan "perjuangan harkat dan martabat wanita" yang digalakkan Ratu Dona Inez dan Ratu Dona Maria.

posting by boim
www.alfonsadeflores.blogspot.com
disadur dari Buku Pelangi Sikka
B. Michael Beding & S. Indah Lestari Beding

Lihat selengkapnya...

Saturday, 14 June 2008

Contoh-contoh Produk












Lihat selengkapnya...

Sentra Industri Lokal Lepo Lorun

Lepo Lorun adalah sebuah Kelompok Usaha Bersama yang bergerak dalam bidang industri Tenun Ikat Tradisional. Kelompok yang dimotori oleh Alfonsa Raga Horeng, STP, seorang putra daerah lulusan salah satu universitas terkemuka di Surabaya ini telah eksis mengembangkan Tenun Ikat dengan pewarna alam. Berbagai souvenir telah dihasilkan antara lain: tenunan warna alam,rompi, selendang, tas,sarung, kain meja, bad cover, aneka tas, dompet, rompi, topi, plate mat, table runner (dari bahan tenunan).
Lihat selengkapnya...
 

blogger templates | Make Money Online