Showing posts with label Ikat Weaving. Show all posts
Showing posts with label Ikat Weaving. Show all posts

Monday, 25 August 2008

Aneka Motif yang Mempunyai Nilai Legend/Story



















Lihat selengkapnya...

Wednesday, 20 August 2008

Sekilas Proses Pembuatan Tenun Ikat

Dibawah ini adalah beberapa langkah dalam proses pembuatan tenun ikat yang menggunakan pewarna alam di SENTRA INDUSTRI LOKAL “LEPO LORUN” di desa Nita,Kabupaten Sikka.
Proses pembuatan tenun ikat ini adalah dimulai dari memintal benang sampai dengan menghasilkan produk-produk kain tenun ikat dengan berbagai corak dan ragam.Ini adalah sebuah warisan dari para leluhur di Kabupaten Sikka yang dikembangkan dan di lestarikan oleh Ibu Alfonsa dan para mama-mama di desa Nita yang bernaung dibawah SENTRA INDUSTRI LOKAL “LEPO LORUN”.






Memintal Benang




Merentangkan benang pada kayu empat persegi panjang selebar ukuran sarung yang di kehendaki (Go'ang)



Membentuk motif dengan cara mengikat benang dengan daun gebang atau tali tebuk (Pete)





Membentuk motif dengan cara mengikat benang dengan daun gebang atau tali tebuk (Pete)




Hasil pencelupan benang ikatan dengan pewarna alam warna hijau dengan indigo/nila,kunyit dan kulit batang pohon mangga (Ebor/Popo long)




Membuka atau menguraikan serat serat benang yang sudah terlekat bersatu karena diikat dan diberi warna (La'a - Wiha)





Menenun (Loru)



Menenun (Loru)




Hasil dari produk tenun ikat


Lihat selengkapnya...

LEPO LORUN SENTRA TENUN IKAT PEWARNA ALAM

Apa yang mendorongnya untuk terjun ke dalam usaha tenun ikat tradisional dengan zat pewarna alam, tidak lain adalah kepeduliannya untuk melestarikan warisan yang secara perlahan mulai ditinggalkan, sekaligus memberdayakan para perajin tenun ikat tradisional, khususnya gadis-gadis dan ibu-ibu di desa. Berbekal ilmu teknologi pertanian yang diperolehnya dari sebuah perguruan tinggi di Surabaya, Alfonsa Horeng mendirikan Sentra Tenun Ikat Lepo Lorun di Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka di Palau Flores, NTT.

Dirintis sejak akhir 2003, Lepo Lorun (dalam bahasa Sikka berarti: rumah tenun) pada awalnya merupakan usaha skala rumah tangga dengan 4 orang tenaga kerja dan dana swadaya sebesar
Rp 500.000,- guna membeli bahan baku berupa benang tenun. Sedangkan zat pewarna alam diperoleh secara cuma-cuma dari tanaman pekarangan dan hasil hutan seperti mengkudu, kayu pohon hepang, dadap serep, indigo/nila, loba, kunyit, kulit pohon mangga, kulit pohon nangka, kulit pohon mangga, serbuk kayu mahoni, waher, dan bagian kulit dari batang akar pohon mengkudu. Atau dalam istilah latinnya antara lain indigofera tinctoria, bixa orellana, morinda citrifolia, psidium guajava, artocarpus heterophyllus, curcuma domestica, dan ceriops condolleana.


Motivasi

Alfonsa menuturkan, berdasarkan uji coba dari berbagai bahan nabati untuk diekstrak
pigmennya guna memproduksi warna alam untuk diaplikasikan ke produk tenun, akan menghasilkan suatu produk tenun tradisional yang bernilai tinggi, memiliki keunikan budaya, dan lebih ekonomis serta ramah lingkungan ditinjau dari segi produksi hingga pemasaran. Itulah sebabnya produk tenun yang mengandung zat pewarna alam dalam bentuk fresh mau pun simplisia ini diminati oleh para kolektor sampai ke mancanegara. "Hal ini semakin banyak mendorong keterlibatan para perajin lokal karena selama ini hasil tenunan mereka hanya bisa dimanfaatkan dalam ruang kebutuhan yang sangat terbatas," tutur gadis kelahiran 1 Agustus 1974 ini penuh semangat.

Melalui sentra Lepo Lorun, katanya, kemampuan dasar yang dimiliki para perajin tenun ikat di desa dapat dikembangkan menjadi lebih baik, meskipun hanya menggunakan bahan baku seadanya. Mereka dapat dilatih untuk menciptakan tenun ikat dengan kreasi yang lebih kaya dan bermotif lebih dinamis. Setidaknya, lewat Lepo Lorun yang secara resmi berdiri pada 24 Mei 2004, produk kerajinan yang dihasilkannya semakin dikenal di luar daerah.

Menurut Alfonsa, motivasi kelompok wanita perajin tenun ikat tradisional yang tergabung dalam sentra Lepo Lorun adalah untuk mempertahankan budaya yang sudah turun-temurun diwariskan oleh leluhur. Dengan motto "berpikir global, bertindak lokal," maka melalui tangan-tangan para perajin, keaslian budaya tetap dipertahankan. Motto ini pula yang mendorong para anggota sentra Lepo Lorun untuk terus bergiat mengembangkan hasil produksi dan memperluas jaringan kerja dengan berbagai pihak.

Salah satu prestasi yang telah diraih Alfonsa bersama sentra Lepo Lorunnya adalah juara kedua tingkat nasional pada kegiatan Pertukaran Pemuda Antar Provinsi (PPAP) di Jakarta, Oktober 2005. Dalam ajang yang diikuti I .024 pemuda berprestasi dari seluruh provinsi itu, sentra Lepo Lorun yang mewakili NTT berhasil meraih peringkat kedua dalam kategori lomba pembuatan tekstil tradisional. Hingga kini Lepo Lorun telah mengikuti berbagai kegiatan berskala nasional di Jakarta, antara lain Pekan Raya Jakarta, Pameran Produk Ekspor, Expo INKRA/DEKRANAS, Expo SMESCO, Expo Invesda, Expo KADIN, dan sejumlah expo lokal di NTT.

Pemasaran

Diakui Alfonsa, kendati telah mengikuti beberapa pameran berskala nasional, pasaran bagi produk tenun ikat yang dihasilkannya masih sangat terbatas. Karena itu yang harus digencarkan adalah memperlebar jaringan pemasaran dan pengenalan ke berbagai sentra produksi, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Suatu upaya yang telah dilakukan adalah menggunakan satu etalase di Bandara Waioti Maumere untuk memajang dan menjual produk kerajinan yang dibuat dari bahan tenun ikat tradisional. Antara lain barang-barang suvenir berupa dompet, aneka tas, sarung handphone, rompi, dan selendang, yang harganya berkisar antara Rp 25.000,- sampai Rp 100.000,- serta sarung tenun ikat dengan berbagai motif daerah yang lebih dinamis seharga Rp 250.000,- sampai Rp 400.000,-/lembar.

Dari pengalamannya bersama para perajin di desa-desa, Alfonsa mengatakan, proses pembuatan tenun ikat dengan zat pewarna alam ini memakan waktu lebih lama jika dibandingkan dengan menggunakan pewarna sintetis (naphtol). "Karena harus melewati beberapa tahap agar dapat menghasilkan warna yang diinginkan dengan kualitas yang baik," ujar lulusan sarjana pada Fakultas Teknologi Pertanian Unika Wdya Mandala Surabaya.

Alfonsa juga mengakui hambatan yang dihadapinya yakni terbatasnya jumlah para perajin generasi muda yang memahami teknik pewarnaan dengan bahan-bahan alam karena umumnya mereka sudah terbiasa menggunakan warna-warn sintetik. Selain itu, bahan-bahan pewarm alam yang dibutuhkan umumnya diambil dari tanaman yang tumbuh liar di pekarangan atau hutan ladang, dan belum dibudidayakan dalam satu lokasi perkebunan yang dikelola secara khusus.

Proses atau langkah pembuatan warna alam sebagai berikut: pertama, benan katun yang sudah diikat motifnya direndam dalam air yang netral (ph netral) selama 24 jam, lalu diangin-anginkan untuk
ditegangkan. Kedua, setelah setengah kering, benang hasil rendaman itu dicelup ke dalam pembangkit warna (FeSO4), kemudian dikeringkan lagi. Ketiga, benang yang sudah kering itu dicelup ke dalam pewarna yang diinginkan (lebih dari 5 kali) sehingga tidak luntur (warna betul-betul pekat). Keempat, diberi penguat warna (untuk mengunci agar tidak luntur).

Pola Inti dan Plasma

Sejalan dengan perluasan sosialisasi pola inti dan plasma ke desa-desa sekitar, keanggotaan Lepo Lorun saat ini terdiri dari 10 anggota inti dan 84 anggota plasma yang tersebar di sejumlah desa yakni Desa Nita, Nitakloang, Tebuk, Lela, Tilang, Riit dan Wolokoli. Sentra (inti) terpusat di Desa Nita, berfungsi memberikan bahan baku, informasi, dan pemasaran kepada 6 cabang sentra (plasma) di desa-desa. Setiap desa memiliki kekhususan dalam hal sumber atau asal pewarna alam. Desa Wolokoli menggunakan mengkudu dan indigo (untuk pewarna tekstil merah dan biru), Desa Riit menggunakan kulit kayu merah dan hepang (untuk pewarna merah pada kain), Desa Tebuk dan Desa Nita memafaatkan kulit pohon mangga dan kunyit, serta indigo (hijau, biru, coklat tanah bila indigo dicampur mengkudu). Sementara tiga desa lainnya menghasilkan pewarna dan kayu hepang dan dadap serep.

Untuk mengembangkan pola kerja intiplasma tersebut, sentra Lepo Lorun mendapat dukungan dan fasilitasi dari kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sikka, termasuk Dekranasda setempat serta beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM). Bantuan yang diperoleh antara lain 150 bal benang tenun, 9 set alat tenun bukan mesin, dan 16 mesin jahit untuk memproduksi barang-barang suvenir. "Alat-alat produksi seperti panci, wajan, blender dan lain-lain sangat dibutuhkan para perajin yang selama ini bekerja menggunakan alat-alat seadanya," ujar Alfonsa.

(Teks/Foto: Phillip Gobang & Avanti Fontana)
Lihat selengkapnya...

Saturday, 21 June 2008

GENERAL PRODUCT KNOWLEDGE OF IKAT SIKKA-FLORES

Kebiasaan masyarakat Sikka dalam kesehariannya dan tiap ceremony adat atau agama, selalu memakai kain tenun atau sarung adat. Sebutan U’tang Sikka untuk sarung perempuan dan lipa Sikka atau ragi Sikka untuk sarung laki-laki.

Jenis motif dan warna serta desain unsur tertentu masih harus dibagi lagi untuk peruntukan si pemakai dari strata apa, usia, jenis kelamin, untuk kegiatan apa, dan kapan waktu dipakai.

Jenis tenunan tsb terdiri dari: Kain tenun ikat, Kain tenun prenggi, Kain tenun liin, Kain tenun neleng, Kain tenun itor. Jenis kain adat artinya full motif yang “rich” terdiri dari hurang kelang ( jalur-jalur ikat dan non ikat) dan bermutu tinggi karena mempunyai nilai filosofi / pesan khusus dan prosesnya dengan upacara khusus dalam hampir tiap tahapan prosesnya. Lapisan-lapisan bagian motif yang disebut sebagai satu-kesatuan hurang kelang yang terdapat dalam suatu unsur kain tenun atau sarung berbeda tergantung pada jenis motifnya. Motif teridentifikasi pada bagian ina gete (main motif) yang merupakan nama dari motif kain tsb.

Proses pembuatannya juga sangat rumit dan butuh ketelitian tinggi dalam menuangkan imajinasi karena desain suatu motif tanpa digambarkan terlebih dahulu dalam suatu pola tetapi secara langsung dituangkan secara imajinatif yang akan terbentuk suatu pola motif yang dituju.



Pewarna yang digunakan pun tergantung dari dominansi tumbuhan yang tumbuh sebagai habitat di daerah tersebut. Proses pewarnaan merupakan unsur seni dalam memadukan kombinasi warna yang sudah secara lasim dihasilkan. Ada yang warna tunggal dan warna kombinasi bersusun. Paduan warna ada yang double color, yang tentu saja pengerjaannya pun makin rumit dan proses yang lama juga ada upacara khusus dan ada pantangan-pantangan tertentu agar hasilnya sempurna.

Ada kain tenun yang proses penembakan pakannya menggunakan benang pakan yang sudah terbentuk motifnya, maka harus tepat penempatan motifnya secara langsung saat ditenun. Karena pakan jenis ini sudah melalui proses ikat pada pakan bukan diikat pada benang lungsi.

Jenis ini hanya seniwati penenun yang daya imajinasinya tinggi.

Juga ada kain tenun yang pembentukan motifnya tanpa ikat tapi langsung dengan permainan unsur pakan selama menenun. Pembentukan motifnya secara langsung saat menenun. Jenis ini juga hanya penenun dengan ketrampilan tinggi.

Ada juga kombinasi permainana warna spiral pada benang pakan yang menggunakan alat pintal, sehingga mutu kain yang dihasilkan bisa terbentuk modifikasi warna/i dan tekstur yang menarik.

Pekerjaan budaya tenun ini dilakukan perempuan Sikka hampir di tiap rumah tangga yang masih memegang unsur budaya adat yang diteruskan secara turun-temurun dari nenek ke ibu, dan dari ibu ke anak, dan dari anak ke cucu, dst. Semasa sebelum menjelang millennium, biasanya ibu yang mengajarkan putrinya (biasanya yang tinggal di desa) menggunakan cara pemaksaan untuk menenun agar juga bisa sebagai parameter untuk bisa menikah, karena secara adat perempuanlah yang memberikan tenunan-tenunan yang bermutu bagi calon suaminya. Mutu dari kain tenun yang diberikan akan digantikan juga dengan emas Sikka yang disebut tibu, suatu bentuk khas emas Sikka yang bentuknya seperti vagina yang melambangkan kesuburan dan kehormatan yang ditatakan dengan unsur binatang dan tumbuhan atau manusia sebagai lambing three of life (tiga unsur kehidupan). Gelang gading sebanyak 1 set (terdiri dari 8 keping gelang gading dan 4 keping gelang perak) pun dibekali dari ibunda kepada putrinya sebagai lambang keperawanannya.

Motif yang terdesain adalah merupakan transfer /gambaran dari symbol lambang-lambang kehidupan sekitarnya dan merupakan symbol ungkapan karena nenek moyang dulu belum mengenal huruf dan angka. Ada ratusan motif pada U’tang Sikka.

Syair-syair dan bahasa adat yang biasa digunakan seniwati penenun dan masyarakat budaya dalam menunjang mutu kain tenun ikat ada arti harafiahnya / pesan khusus tergantung jenis dan motif kain tsb.


Lihat selengkapnya...

Tuesday, 17 June 2008

IKAT-WEAVING

In Sikka, painting, carving and sculpture is almost extinct. Only tieing-weaving (tenunikat) art is still holding out until now. (As in whole Flores, East Nusa Tenggara).

Ikat is specific product of home handicraft of the women. The beauty elements through motive, either by symbols of macrocosms and microcosms or strong system. Pictures/motives art dyed in nature color root, called bur or buke and leaf of black in­digo, then woven with the most careful way. The product is wore by those who inherit moral defense educational massage, which in ancestors custom language called Du'a Utan(g) Ling Labu Welin(g). Sarong and dress belong to women should have value and valuable. Background of philosophy (both man and women) about value and self - regard is realized in the meaning of marriage finery.

Accordingly, each piece of women sarong called utan(g) is as expensive as the creator.
In spite of this there is also man blanket sembar and head ikat cloth wutuk or lensu, which tied and woven well. There is also weaving cloth is woven by Sikka-Krowe weaving artist called Lipa Li'in(g) or Lipa Prenggi.

Traditional sarong Utan(g) has design called Huran(g)-Heren(g) which is really sharp and considerable. After the symbol of motives and ikat picture Hurang-Kelang also determines.
Each piece of Huran(g)-Kelan(g) sarong which has been tied and dyed consist of Ina Gette, Renda, Ina Lotik/Kesik, Tokang, Likeng, Bueng, and Wiwir.

Ina Gette, part of main big motives with a number of ikat (Go'ang-Siwang) more than 100.
Renda, Carving with a style between Ina gette and Ina Lotik (small style part), either whole carving (renda temang) or only a part (renda wigeng).
Ina-Lotik/Kesik, Part of small style of Ina Gette motive with a number of ikat, 20 until 50.
Tokang, part with dot motives only one tieing as interlude of small limit.
Likeng, Part of geometrical motive that tieing between Ina Gette, Ina Lotik, Tokang, and Bueng.
Bueng, Part of single series dot motive as border.
Wiwir, Low tip part with 10 until 20 tieing, if it is given face motives with geometric/line design triangle, spiral meander, square, which called wiwir renda. If the edge is black, it is called wiwir mitan(g).

Motives/Pictures which called Huran(g)-Kelan(g) art:
• Dala Mawarani (morning star)
• Agi Pelikano (angel, holy bird pelican)
• Jarang Atabiang (a couple men on a horse)
• Koraseng Doberadu (men like a couple of chicken-influence of Portuguese Catholic).
• Koraseng Manuwalu (as same as koraseng doberadu with a motives of a couple of chicken under it's hand)
• Naga Lalang (sawanb dragon with dragon motive)
• Ruha (savanna animal motives, deer)
• Sesa We'or (tail of male and female small bird)
• Manu (fighting cock motives)
• Oko Kirek (men and animals motives)
• Ahu-Uta (Wolf motives)
• Pedang-Puhung (pineapple leaf motive)
• 'Ai 'Roung (leaf, flower and spiral shaped)
• Besi (leaf and squash motives)
• Ata Bi'ang (a couple of men motives)
• Medeng (bloom, leaf and double helix motives)
• Patola (India patola with its circle spiral bloom motives)

Accordingly every traditional sarong, utan(g) has special name according to mo¬tives-kelang-as mentioned above, namely utang mawarani - utang Agi pelicano - utang ata bi'ang - utang jarang ata bi'ang - utang rempe sikka - utang moko - utang tope -utang rea nepa - utang wenda - utang breke - utang jentiu - utang naga lalang – utang gabar - utang patola - utang nape wunung - utang anjo - utang soge - utang lea - utang luwu -utang wenda luheng nggeta - utang wenda tenda wolojita - utang oi - utang nape da'ang tang -utang oko kirek - utang rempe sikka kelang medeng -utang medeng turang rua - utang medeng ta'a water, etc.

Motives and various decorations have a meaningful values/symbol on every tra¬ditional sarong and can be read in certain kinds of sarong such as:

Utang Moko, wore on planting effort ceremony to ask for fertilization.
Utang Breke, wore on refusing disaster ceremony a symbol of destruction.
Utang Jarang Ata Bi'ang, wore whwn the death, as symbol of men who rides the horse I to great beyond.
Utang Merak, suitable for bride, because motives and color are interesting and beautiful.
suitable for old men, because
Utang Mitang, suitable for old men, because it has calm black color.
Utang Wenda, for the couple who will live happily.
Utang Mawarani, that have the symbol or morning star, to give tight,
guidance, and also as medium to refuse disaster.
Utang Oi Rempe-Sikka, suitable to be wore by bride because it has symbol of three
stars, as husband, wife and child.
Utang Sesa We'or, It is good for the bride who'is paying court, with the symbol of couple of small bird.

The fore, it is clear that traditional sarong, utan(g) of Sikka-Krowe beside has esthetics and artistic value, also has educational and religious value.

In relating to motives and art aspect of sarong/lipa (Man Sarong) of Sikka-Krowe,
it was noted that queen Dona Maria Du'a Lise Ximenes da Silva had a great role. She is very interested to beautiful. Patola motive from India and beautiful prenggi from Malaka, so Queen Dona Maria sent special envoy to Java to study how to make it. It was a confirmation of Sikka historians Edmundus Pareira et al. In a special interview in Lela (June 2000) that the effort had a closed relation to women value and dignity struggle effort by Queen Dona Inez and Queen Dona Maria.

posting by boim
www.alfonsadeflores.blogspot.com
from The Rainbow of Sikka



Lihat selengkapnya...

Monday, 16 June 2008

Seni Kerajinan Ikat-Tenun

Di Sikka, seni rupa (ukir, lukis dan pahat) sudah hampir punah. Yang bertahan hingga kini hanyalah seni ikat-tenun (sebagaimana di seluruh Flores, Nusa Tenggara Timur-NTT)

Seni ikat-tenun adalah hasil karya tangan rumah tangga oleh para wanita yang sangat spesifik. Unsur-unsur keindahan melalui gambar. gambar motif, baik berlatar makrokosmos dan mikrokosmos dalam perlambangan-perlambangan maupun sistem yang kuat. Gambar-gambar motif yang diikat kemudian diwarnai. Dicelupkan pada warna kuat alamiah: akar mengkudu yang disebut bur/buke dan tarung yang merupakan dedaunan tarum hitam. Setelah diberi ramuan koja-gelo, ditenun melalui proses yang sangat berhati-hati. Hasilnya, dipakai oleh mereka yang mewarisi pesanan edukatif pertahanan-moral yang dalam bahasa adat leluhur, Du'a utan(g)ling tabu welin(g)"Kain sarung dan baju setiap wanita haruslah bernilai, berharga".



Latar belakang filosofis (baik pria apalagi wanita) tentang nilai dan harga diri yang diwujudkan dalam seluruh artian pembelisan perkawinan.

Oleh karenanya, setiap lembaran kain sarung wanita yang disebut utan(g), mahal harganya setimpal orang yang mengerjakannya. Selain itu masih ada kain selimut pria, dan ikat kepala atau lensu yang diikat dan ditenun rapi. Masih ada lagi kain lipa buat pria yang ditenun-diikat, lipa peten(g) atau lipa-loen(g). Juga kain lipa yang ditenun angkat sulam oleh seniwati Sikka-Krowe, lipa li'in(g) atau lipa-prenggi.

Terutama sarung adat utan(g) mempunyai susunan/design yang disebut huran(g)-heren(g) yang jeli dan diperhitungkan. Setelah hasil ikatan penuh motif dan gambar perlambang huran(g)-kelan(g) yang juga menentukan.

Susunan/design hurang-hereng dari setiap hurang-kelang lembaran sarung yang sudah diikat dan diwarnai terdiri atas Ina gette, Renda, Ina-Lotik/Kesik, Tokang, Likeng, Bueng, dan Wiwir.

Ina-Gette, bagian motif besar utama dengan jumlah lungsi (go'ang-siwang) sebanyak 100 hingga 200 lebih ikatan.
Renda, hiasan berpola antara Ina Gete dan Ina Lotik (bagian, pola kecil), baik hiasan utuh (renda temang) maupun separuh belahannya (renda wigeng).

Ina-Lotik/Kesik, bagian pola kecil dari motif Ina Gete dengan jumlah lungsi sebanyak 20 hingga 50 ikatan.
Tokang, bagian dengan motif kecil sebanyak lebih dari 10 ikatan disusun di antara Ina Gette Ina Lotik, Renda, Likeng, dan Bueng.
Likeng, bagian dengan selingan motif geometris sebanyak angka ganjil 3-5-7-9 ikatan disusun di antara Ina Gete, Ina Lotik, Tokang, dan Bueng.
Bueng, bagian dengan motif berbintik hanya satu ikatan sebagai selingan batas kecil.
bagian ujung bawah dengan ikatan sebanyak 10 hingga
Wiwir, bagian ujung bawah dengan ikatan sebanyak 10 hingga 20 ikatan. Bila diberi motif renda berpola geometris/bergaris tumpal, segi tiga, pilin, meander, persegi empat, disebut wiwir renda. Bila pinggiran ini polos hitam wiwir mitan(g).


Motif/gambar-perlambang yang disebut huran(g)-kelan(g) dapat disebutkan:
• Dala Mawarani (Bintang Kejora)
• Agi Pelikano (Malaikat, Burung suci pelikan)
• Jarang Atabiang (Pasangan manusia berkuda)
• Koraseng Doberadu (Manusia bagai pasangan ayam -pengaruh Katolik Portugis).
• Koraseng Manuwalu (sama dengan Koraseng Doberadu, dengan motif pasangan anak ayam dengan induknya sang pelindung)
• Naga Lalang (atau Naga Sawaria dengan motif ular-naga)
• Ruha (Motif binatang padang ilalang, rusa)
• Sesa We'or (Motif ekor burung murai betina dan jantan)
• Manu (Motif ayam bertemu kepala, bersambungan)
• Oko-Kirek (Motif dengan ragam manusia dan binatang)
• Ahu-Uta (Motive anjing hutan semacam serigala)
• Pedang-puhung (Motif dedaunan nenas dengan sulurnya)
• 'Ai-`roung (Motif daun, bunga dan sulurnya)
• Besi (Motif daun dan buah labu)
• Ata-Bi'ang (Motif manusia berpasangan)
• Medeng (Motif kembang, daun, dan sulur berganda)
• Patola (Motif patola India dengan suluran kembang yang membentuk bulatan)

Dengan demikian setiap sarung adat, utan(g) mempunyai nama tersendiri sesuai motif -kelang- yang disebut di atas yakni Utang Mawarani Utang Agi Pelikano - Utang Atabi'ang - Utang Jarang Ata Bi'ang - Utang Rempe Sikka -Utang Moko - Utang Tope - Utang Rea Nepa - Utang Wenda Utang Breke - Utang Jentiu - Utang Naga Lalang - Utang Gabar - Utang Patola - Utang Nape Wungung - UtangAnjo - Utang Soge - Utang Lea - Utang Luwu - Utang Wenda `Luheng Nggela - Utang Wenda Tenda Wolojita - Utang Oi - Utang Korasang Manuwalu - Utang Rempe Sikka Kelang Naga Lalang - Utang Nape Da'ang Tang - Utang Oko Kirek - Utang Rempe Sikka Kelang Medeng - Utang Medeng Turang Rua - Utang Medeng La'a Waler, dan sebagainya.
Motif dan ragam hiasan penuh dengan artian nilai/simbol pada setiap sarung adat yang dapat dibaca pada jenis-jenis sarung tertentu seperti:


Utang Moko, dipakai dikala upacara perladangan dengan ujud memohonkan kesuburan.
Utang Breke, dipakai pada waktu upacara menolak bala dalam perlambang destruktif pemusnahan.
Utang Jarang Atabi'ang, dipakai sewaktu ada kematian dalam perlambang manusia menaiki kuda menuju alam baka.
Utang Merak, sangat layak dipakai sang pengantin wanita, karena corak dan warna menarik, indah.
Utang Mitang, sangat cocok buat orang tua, karena warna gelap yang tenang.
Utang Wenda, bagi pasangan yang ingin hidup bahagia,sangat bertepatan untuk dipakai.
Utang Rempe Sikka, buat pasangan yang ingin kerukunan hidup.
Utang Mawarani, dengan perlambang Bintang Kejora, diharapkan dapat memberikan penerangan, petunjuk juga sebagai media penolak bala.
Utang Oi Rempe-Sikka, sangat layak dipakai oleh pengantin wanita, karena berlambang tiga bintang seandai suami, isteri dan anak.
Utang Sesa We'or, sangat laik buat pengantin yang sedang beradu kasih, dalam perlambang burung murai berpasangan.

Demikian, jelas bahwa sarung adat utan(g) Sikka-Krowe selain bernilai, artistik, juga paedagogis, dan religius.
Perkara motif atau segi art pada sarung/kain lipa Sikka-Krowe patut dicatat peran Ratu Dona Maria Du'a Lise Ximenes da Silva. Agaknya karena tergoda patola dari India yang cantik atau prenggi yang cantik dari Malaka, maka Ratu Dona Maria mengirim orang khusus ke Jawa untuk belajar cara membuatnya. Hal ini, demikian penegasan sejarahwan Sikka Edmundus Pareire dkk. dalam wawancara khusus di Lela (Juni 2000), sangat berkaitan dengan "perjuangan harkat dan martabat wanita" yang digalakkan Ratu Dona Inez dan Ratu Dona Maria.

posting by boim
www.alfonsadeflores.blogspot.com
disadur dari Buku Pelangi Sikka
B. Michael Beding & S. Indah Lestari Beding

Lihat selengkapnya...
 

blogger templates | Make Money Online