Monday, 4 August 2008

Kain Patola

Kain Patola adalah jenis tenunan ikat ganda terbaik dari Gujarat di India Utara.Kain Patola adalah tenunan ikat terbaik lungsin dan pakan( lodon dan geran) sudah diikat /dobel ikat.
Kain Patola adalah kain kebesaran,kain upacara,kain pentas tari adat(tarian mohon hujan di Tanah Ai(sebuah desa di wilayah Kabupaten Sikka,pulau Flores,NTT) = neni uran dara na’a tibang tana wulan tion liwan belan,tena nuruk guru : tanam padi nang roja panen padi).
Di Maluku kain Patola dipakai dalam upacara sebelum berperang,karena diyakini kain tersebut memiliki kekuatan sakti yang dapat memberikan kemenangan dalam peperangan.

Menurut sejarah,tenunan ikat Patola dimulai tahun 700 M.berita mengenai Patola diketahui sejak 1200 M tetapi belum jelaskain Patola itu jenis tenunan sutra/non sutra.
Suatu berita tahun 1500 M oleh Duarte Barbarosa menjelaskan bahwa kain Patola yang dijual di Asia Tenggara dan di Indonesia dinilai tinggi oleh orang Indonesia.

Ada berita lain,kain Patola adalah salah satu bahan ekspor dan dagang utama di Asia tenggara abad 16 dan 17.
Diberitakan pula bahwa paderi-paderi Portugis menyebarkan kain Patola di kepulauan Solor (Flores Timur),Banda,Kepulauan Maluku,dan Makasar mendahului pedagang Belanda.
Karena nilai spiritual yang suci itu maka kain Patola dijadikan pakaian kaum Brahmana dan Jaina,yaituh kaum paderi yang meimpin upacara ritual.Nilai spiritual tersimpul juga dari penenun juga yang berasal dari kasta Hindu.

Patola juga dianggap mengandung pertanda.Karena motip-motip yang tertenun dalam kain Patola dianggap membawa kebahagiaan/keberuntungan dan dapat mencegah malapetaka.
Kain Patola disimpan sebagai pusaka yang sakti/keramat,dipakai dalam upacara ritual pernikahan atau upacara kematian sebagai pembungkus jenasah.

Di India Patola dipakai wanita hamil 7 bulan dalam suatu upacara ritual,dengan maksud bayi yang dikandung kelak mendapatkan kebahagiaan waktu dilahirkan ibunya.
Kaum ningrat mengenakan Patola sebagai pakain bukan karena nilai real melainkan karena nilai spiritual yakni nilai(religius-magic) yang dianggap memberikan perlindungan dan kesejahteraan.

Nilai spiritual kain Patola tersimpul dari upacara adat di Bali dengan pengaruh agama Hindu dimana berpadu unsur adat dan budaya.
Carikan dan benang kain Patola juga dianggap angker sehingga dibakar menjadi abu dan dicampur dalam obat-obatn karena dianggap menginduksi kekuatan sakti yang menyembuhkan penyakit gila atau lumpuh.
Orang NTT(Nusa Tenggara Timur) yang mendiami pulau Alor,Adonara,Solor,Lembata,Flores Timur dan Tana Ai menggunakan kain Patola sebagai imbalan mas kain dan penutup jenazah.

Kain Patola di Tana Ai,Kabupaten Sikka disebut juga Kotipa,Tipa,Tola,Tipa Tola.
Hingga sat ini kain Patola masih dipakai di Tana Ai dalam upacara ritual semisal Gareng Lameng (inisiasi),Goen Mahe;upacara ritual memohoni kehadiran Tuhan dan leluhur di tugu leluhur atau mahe,Goen Lema yakni upacara syukuran panen diladang dan nona wini,Nean upacara menanamkan padi diladang.


Kain Patola seperti foto diatas dimiliki oleh Ibu Alfonsa dan di jual untuk umum dengan harga Rp.100 juta.
Bagi yang berminat bisa menghubungi nomor telepon yang ada di blog ini,terima kasih.
Lihat selengkapnya...

Thursday, 26 June 2008

Contoh-contoh Produk Bag.5












posting by boim
www.alfonsadeflores.blogspot.com
(sumber: STILL (Sentra Tenun Ikat Lepo Lorun)

Lihat selengkapnya...

Saturday, 21 June 2008

Contoh-contoh Produk Bag.4








Lihat selengkapnya...

GENERAL PRODUCT KNOWLEDGE OF IKAT SIKKA-FLORES

Kebiasaan masyarakat Sikka dalam kesehariannya dan tiap ceremony adat atau agama, selalu memakai kain tenun atau sarung adat. Sebutan U’tang Sikka untuk sarung perempuan dan lipa Sikka atau ragi Sikka untuk sarung laki-laki.

Jenis motif dan warna serta desain unsur tertentu masih harus dibagi lagi untuk peruntukan si pemakai dari strata apa, usia, jenis kelamin, untuk kegiatan apa, dan kapan waktu dipakai.

Jenis tenunan tsb terdiri dari: Kain tenun ikat, Kain tenun prenggi, Kain tenun liin, Kain tenun neleng, Kain tenun itor. Jenis kain adat artinya full motif yang “rich” terdiri dari hurang kelang ( jalur-jalur ikat dan non ikat) dan bermutu tinggi karena mempunyai nilai filosofi / pesan khusus dan prosesnya dengan upacara khusus dalam hampir tiap tahapan prosesnya. Lapisan-lapisan bagian motif yang disebut sebagai satu-kesatuan hurang kelang yang terdapat dalam suatu unsur kain tenun atau sarung berbeda tergantung pada jenis motifnya. Motif teridentifikasi pada bagian ina gete (main motif) yang merupakan nama dari motif kain tsb.

Proses pembuatannya juga sangat rumit dan butuh ketelitian tinggi dalam menuangkan imajinasi karena desain suatu motif tanpa digambarkan terlebih dahulu dalam suatu pola tetapi secara langsung dituangkan secara imajinatif yang akan terbentuk suatu pola motif yang dituju.



Pewarna yang digunakan pun tergantung dari dominansi tumbuhan yang tumbuh sebagai habitat di daerah tersebut. Proses pewarnaan merupakan unsur seni dalam memadukan kombinasi warna yang sudah secara lasim dihasilkan. Ada yang warna tunggal dan warna kombinasi bersusun. Paduan warna ada yang double color, yang tentu saja pengerjaannya pun makin rumit dan proses yang lama juga ada upacara khusus dan ada pantangan-pantangan tertentu agar hasilnya sempurna.

Ada kain tenun yang proses penembakan pakannya menggunakan benang pakan yang sudah terbentuk motifnya, maka harus tepat penempatan motifnya secara langsung saat ditenun. Karena pakan jenis ini sudah melalui proses ikat pada pakan bukan diikat pada benang lungsi.

Jenis ini hanya seniwati penenun yang daya imajinasinya tinggi.

Juga ada kain tenun yang pembentukan motifnya tanpa ikat tapi langsung dengan permainan unsur pakan selama menenun. Pembentukan motifnya secara langsung saat menenun. Jenis ini juga hanya penenun dengan ketrampilan tinggi.

Ada juga kombinasi permainana warna spiral pada benang pakan yang menggunakan alat pintal, sehingga mutu kain yang dihasilkan bisa terbentuk modifikasi warna/i dan tekstur yang menarik.

Pekerjaan budaya tenun ini dilakukan perempuan Sikka hampir di tiap rumah tangga yang masih memegang unsur budaya adat yang diteruskan secara turun-temurun dari nenek ke ibu, dan dari ibu ke anak, dan dari anak ke cucu, dst. Semasa sebelum menjelang millennium, biasanya ibu yang mengajarkan putrinya (biasanya yang tinggal di desa) menggunakan cara pemaksaan untuk menenun agar juga bisa sebagai parameter untuk bisa menikah, karena secara adat perempuanlah yang memberikan tenunan-tenunan yang bermutu bagi calon suaminya. Mutu dari kain tenun yang diberikan akan digantikan juga dengan emas Sikka yang disebut tibu, suatu bentuk khas emas Sikka yang bentuknya seperti vagina yang melambangkan kesuburan dan kehormatan yang ditatakan dengan unsur binatang dan tumbuhan atau manusia sebagai lambing three of life (tiga unsur kehidupan). Gelang gading sebanyak 1 set (terdiri dari 8 keping gelang gading dan 4 keping gelang perak) pun dibekali dari ibunda kepada putrinya sebagai lambang keperawanannya.

Motif yang terdesain adalah merupakan transfer /gambaran dari symbol lambang-lambang kehidupan sekitarnya dan merupakan symbol ungkapan karena nenek moyang dulu belum mengenal huruf dan angka. Ada ratusan motif pada U’tang Sikka.

Syair-syair dan bahasa adat yang biasa digunakan seniwati penenun dan masyarakat budaya dalam menunjang mutu kain tenun ikat ada arti harafiahnya / pesan khusus tergantung jenis dan motif kain tsb.


Lihat selengkapnya...

Friday, 20 June 2008

Contoh-contoh Produk Bag.3







Lihat selengkapnya...

Wednesday, 18 June 2008

Contoh-contoh Produk Bag.2







Lihat selengkapnya...
 

blogger templates | Make Money Online