Sunday, 26 October 2008

Tenun Ikat Flores (Keragaman Corak dan Ragam Hias)

PULAU FLORES merupakan bagian dari kelompok pulau-pulau Nusa Tenggara Timur, dan mendapat banyak pengaruh dari pulau-pulau sekitarnya. Pengaruh-pengaruh tersebut memperkaya budaya suku-suku di Flores yang jumlahnya mencapai hampir tiga puluh suku. Setiap suku 'mempunyai bahasa dan dialeknya sendiri. Di bagian barat pulau Flores tinggal orang Manggarai, di bagian tengah tinggal orang Ngada, Riung, dan Nage Keo, sedangkan di bagian timur berdiam orang Ende, Lio, Sikka, dan Larantuka. Sebagian besar masyarakat Flores hidup dari bercocok tanam dan berternak kerbau dan kuda. Kedua jenis hewan tersebut dipergunakan sebagai alat pembayaran mas kawin. Dan pada umumnya kuda juga berfungsi sebagai alat transportasi. Kepandaian menenun ini diwariskan secara turun-temurun, dan telah dipelajari sejak mereka masih kecil. Salah satu tradisi para wanita penenun yang menarik yaitu kebiasaan memakan sirih dilakukan wanita Flores, khususnya penenun, di sepanjang hari saat bekerja. Jenis-jenis kain tenun yang dihasilkan adalah selendang lebar yang berfungsi sebagai selimut bagi laki-laki dan sarung untuk wanita. Selimut atau selendang juga digunakan sebagai penutup jenazah. Selain sebagai selimut dan pakaian yang dijual bebas di pasaran, kain tenun ikat juga digunakan sebagai perlengkapan upacara adat sebagai pakaian adat, pakaian upacara, dan mas kawin.


Beragamnya fungsi dan banyaknya permintaan kain tenun ikat, membawa banyak perubahan dalam proses pembuatannya. Selain digunakannya pewarna sintetis, kini benang rayon juga digunakan sebagai bahan baku kain tenun ikat. Meskipun demikian, kain tenun ikat yang dicelup dengan pewarna alami dan menggunakan bahan baku tradisional yaitu benang dari kapas, juga masih ada.

Tenun ikat Flores dibuat dengan bahan dasar benang dari kapas yang dipilin oleh penenunnya sendiri. Benangnya kasar dan dicelup warna biru indigo. Kain dihiasi dengan ragam hias bentuk geometris aneka warna yang cerah dan menyolok. Kain tenun dari daerah Manggarai banyak menggunakan warna kuning keemasan, merah, dan hijau.

Pembuatan desain kain tenun ikat di Flores dilakukan dengan mengikat benang-benang lungsi. Pekerjaan ini dapat berlangsung selama berminggu-¬minggu, bahkan kadang-kadang sampai berbulan-bulan. Seringkali pencelupan dikerjakan satu-persatu untuk setiap bakal kain sarung, meskipun kadang-kadang juga dilakukan sekaligus untuk beberapa buah kain sarung. Ketika kerajaan-kerajaan kecil di Flores masih ada, sejumlah orang bekerja khusus sebagai pembuat kain-kain tenun untuk kebutuhan kalangan raja-raja di istana. Jika dahulu ada pembedaan pakaian adat berdasarkan status sosial (golongan bangsawan atau rakyat jelata), maka masa sekarang tidak lagi. Sekarang kain-kain tenun dibuat untuk dijual ke pasaran lalu dijual lagi kepada mereka yang membutuhkannya. Pesanan dengan kualitas khusus masih dilayani dengan harga khusus pula.

Beberapa daerah yang menghasilkan kain-kain tenun adalah Manggarai, Ngada, Nage Keo, Ende, hingga sekitar Lio, Sikka, dan Lembata di bagian timur Flores.
Di daerah-daerah tersebut, seperti di wilayah Nusa Tenggara Timur lainnya, benang yang diikat adalah benang lungsi.

Manggarai dan Ngada

Di daerah Manggarai ada teknik lain pembuatan ikat, yaitu menggunakan lidi-lidi pengungkit dalam proses penenunan untuk menghasilkan pakan tenun songket tambahan. Di daerah Ngada, Flores Tengah, juga terdapat kain tenun songket warna kuning emas sebagai pengganti songket benang emas. Kain-kain tenun songket Flores di atas latar tenunan benang kapas ini mempunyai banyak persamaan dengan kain-kain songket dari Sumbawa. Menurut tinjauan sejarah wilayah sebelah barat Flores dulu merupakan daerah kekuasaan kerajaan Bima-Sumbawa yang memiliki kain-kain tenun songket benang emas dan perak untuk kalangan raja-raja Bima. Hal ini membawa pengaruh yang cukup kuat di daerah sebelah barat Flores, sehingga mereka pun mempunyai tradisi membuat kain tenun songket walaupun tidak menggunakan benang emas dan benang perak.

Selain kain songket, masyarakat Ngada juga membuat kain tenun ikat. Tenun ikat yang mereka buat menggunakan warna-warna gelap, antara lain dengan kombinasi warna biru dan cokelat, dengan garis-garis sederhana. Sedangkan suku Nage Keo menghasilkan tenunan yang menampilkan motif bintik-bintik kecil dari teknik ikat pembentuk motif floral. Jalur ikat ini dikombinasikan dengan jalur-jalur kecil lain berwarna putih, merah, dan biru polos.
Seperti halnya kain sarung, pada kain songket juga ada pembagian desain kain antara lain adalah yang disebut bagian kepala yang diletakkan di bagian tengah dan yang disebut badan yang diletakkan di belakang kain lainnya. Pembagian desain songket dari Manggarai dan Ngada ini juga membentuk bagian badan dan kepala, dengan motif yang berbeda di kedua bagian tersebut. Saat dikenakan, bagian kepala biasanya diletakkan di bagian depan dan bagian badan diletakkan di belakang. Di Flores, kain tenun biasanya dikenakan hingga setinggi dada. Dalam perkembangannya, mereka menggunakan kebaya yang pemakaiannya dimasukkan dalam sarung. Cara memakai kain sarung seperti ini hampir sama dengan cara wanita Bugis dan Makasar di Sulawesi Selatan, atau Kaili dan Donggala di Sulawesi Tengah.

Sikka

Pada mulanya kain adat Flores untuk wanita berbentuk sarung setinggi dada dan dilipat di bagian depan. Di bagian pinggang pemakai dikenakan ikat pinggang dari perak. Mereka tidak menggunakan kebaya atau blus. Namun kini ada variasi lain dari cara pemakaian kain sarung, di mana lipatan kain sarung diikat di salah satu bahu sehingga agak terangkat ke atas pada salah satu sisinya.

Cara pemakaian kain di Flores ada bermacam-macam. Lain daerah atau suku, bisa berbeda pula cara pemakaiannya. Perempuan suku Sikka di Maumere, Kabupaten Sikka, menggunakan kain sarung sebatas pinggang yang disebut utan, yang dipadukan dengan baju kebaya yang disebut labu, yang modelnya mirip kebaya Maluku. Utan dengan ragam hias yang diberi warna gelap atau hitam disebut utan welak. Paduan kain dan labu ini masih dirasa kurang bila tidak menggunakan selendang yang disebut dong. Penampilan kaum perempuan ini masih dilengkapi tusuk konde dari emas atau perak yang tinggi berbentuk bunga, yang disebut bunga we. Hiasan tusuk konde serupa ini dipakai juga dalam pakaian adat Ende.

Kaum pria suku Sikka memakai kemeja yang juga disebut kebaya labu dan celana panjang. Di luar celana mereka mengenakan sarung yang disebut lipa atau utan yaitu jenis kain sarung orang Sikka yang berwarna biru tua atau biru hitam dihiasi dengan jalur-jalur biru muda atau biru toska. Mereka pun mengenakan selendang lebar yang disampirkan di bahu sampai dada yang disebut lensu sembar. Sebagai penutup kepala para laki-laki biasanya menggunakan destar. Destar mereka kadang-kadang justru terbuat dari bahan batik Jawa. Selain itu ada hal lain yang khas dalam pakaian adat Sikka, kain tenun warna hitam atau gelap hanya dipakai oleh mereka yang telah berumur, sedangkan kaum muda memakai kain tenun dengan warna terang dan menyolok.

Proses saat serat bunga kapas dipintal menjadi benang

Memintal serat/benang tenun di Flores

Cara memakai kain sarung dari Sikka

bersambung...

www.alfonsadeflores.blogspot.com
Repro: koleksi dokumentasi Anjungan NTT TMII
posting by: boim




Lihat selengkapnya...

Friday, 26 September 2008

Lepo Lorun saat dikunjungi Meneg Pemberdayaan Perempuan, Ibu Prof.Dr. Meutia Hatta

Sentra Tenun Ikat Lepo Lorun (STILL) di Desa Nita, merupakan pusat kegiatan dari beberapa UKM (Usaha Kecil Menengah) Helaan di bidang usaha produk tenun ikat tradisional, dengan kekhasan produk tenun ikat aplikasi Zat Warna Alam (ZWA) / nature color yang diekstrak dari tumbuhan / nabati yang menghasilkan pigmen warna. Juga bahan baku serat alam yang menggunakan benang alam (kapas pintal). Hasil produk ini disesuaikan untuk peruntukannya yaitu produk untuk sarung adat, aneka bahan pakaian (fashion product) dan aneka bahan pelengkap perabotan rumah tangga (household) dan produk accessories pakaian dan souvenir. Hal ini merupakan langkah inovatif dan modifikasi teknologi budaya. Usaha yang dirintis oleh Ibu Alfonsa Horeng, STP ini bahkan mendapat perhatian pemerintah pusat. Di bulan April 2007 lalu, tepatnya tanggal 05 April Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI sempat melakukan kunjungan ke Sentra binaan Ibu Alfonsa di Desa Nita dalam perjalanan kunjungan kerja mulai 04-07 April 2007 di NTT.


Ibu Menteri ditemani, Bpk Frans Lebu Raya (kala itu Wagub Prop. NTT, kini menjadi Gubernur NTT) dan Bpk Alek Longginus (Mantan Bupati Sikka)


Dalam kesempatan ini,beberapa ibu mendemostrasikan proses pembuatan tenun ikat memakai bahan-bahan pewarna alam.











Lihat selengkapnya...

Friday, 19 September 2008

STILL dalam Gelar Tenun Tradisional Indonesia di Jakarta

Gambar di samping adalah ibu Alfonsa de Flores saat mengikuti pameran di Jakarta pada tanggal 15 Desember 2007 lalu. Pada kesempatan itu STILL memamerkan kain tenun ikat pewarna alamnya beserta berbagai souvenir seperti tas, kain taplak, baju, rok, dompet dll. Tampak juga anak almarhum H. M. Soeharto, mbak Tatiek Prabowo datang berkunjung ke stan STILL dan sempat ngobrol dengan ibu Alfonsa. Mbak Tatiek tertarik kali ya dengan Tanun Ikat Maumere. Terlihat juga beberapa turis mancanegara sangat antusias dengan tenun ikat perwarna alam hasil produksi STILL.


Berikut kami tampilkan foto-foto yang sempat diabadikan...















posting by: boim
www.alfonsadeflores.blogspot.com

Lihat selengkapnya...

Thursday, 28 August 2008

Lepo Lorun di Jakarta Convention Center

Apa pendapat Anda melihat peragawati-peragawati ibukota mengenakan kostum Tenun Ikat rancangan desainer nasional di samping ini? Menurut saya, karya-karya tangan-tangan manusia ini hanya butuh kesempatan lebih banyak baik dari segi produksi maupun promosi. Lihat saja motif dan model pakaian tenun ikat di samping tidak kalah hebat dibandingkan bahan konveksi dari luar negeri sekalipun. Kalau saja sentra-sentra Tenun Ikat Pewarna Alam tumbuh subur dan mendapat perhatian lebih dari pemerintah bukan tidak mungkin menjadi Sentra Industri Kecil yang berkembang dan bisa bersaing. Dampaknya, bukan hanya secara ekonomi tetapi Tenun Ikat akan semakin dikenal secara luas. Ibu Alfonsa Horeng, STP menyadari betul bahwa mengikuti fashion show adalah salah satu sarana promosi yang sangat tepat sehingga Sentra Tenun Ikat Lepo Lorun yang memproduksi tenun ikat pewarna alam merebut pangsa pasar di negara sendiri. Berikut ini kami suguhkan STILL (Sentra Tenun Ikat Lepo Lorun) saat mengikuti Fashion Show yang diselenggarakan Desainer Ghea S. Panggabean di Plennary Hall Jakarta Convention Center Jakarta dengan tema Pekan Produk Budaya Indonesia pada 04-08 Juni 2008 yang lalu.


Ibu Alfonsa dan temannya bersama desainer nasional Ghea S. Panggabean. Ghea sangat tertarik dengan Tenun Ikat Maumere yang memiliki motif dan corak yang menarik dan mengajak kerja sama dengan STILL. Beliau bahkan menyediakan showroom buat STILL memajang hasil tenun ikat di studionya.










Lihat selengkapnya...

Monday, 25 August 2008

Aneka Motif yang Mempunyai Nilai Legend/Story



















Lihat selengkapnya...
 

blogger templates | Make Money Online